Home Profil Pelatihan Testimoni Hipnoterapi Galeri Kontak Kami
refleksi teraphy pijat refleksi
- Alternatif
- Balita & Anak
- Gizi
- Pria
- Psikology
- Tips
- Topik Utama
- Wanita
IKLAN BARIS
Loker buat Alumni

Buku panduan refleksi dan VCD refleksi teraphy


DOWNLOAD
cover buku refleksi
buku refleksi
formulir pendaftaran
doa-doa pengobatan
analisa telapak tangan

CHATING
Konsultasi Online
mengatur keuangan
 ARTIKEL

mengatur keuangan

Tips Mengatur Keuangan

Benarkah pomeo bahwa jika ada uang semua permasalahan akan beres? Bisa benar, tapi sering pula tidak. Lebih-lebih bila itu diterapkan dalam kehidupan berumah tangga. Bahkan tidak jarang persoalan uang malah sering dituding sebagai biang pemicu perselisihan dalam keluarga. Bagaimana sebaiknya mengatur keuangan dalam sebuah rumah tangga ?

 

 

Howard markman, direktur pusat penelitian perkawinan dan keluarga di universitas Denver, Amerika, berpendapat bahwa uang merupakan masalah nomor satu yang sering dipertengkarkan para pasutri. Itu berarti setiap keluarga entah kelompok yang berkelimpahan atau yang berpenghasilannya pas-pasan, selalu rawan terhadap perselisihan gara-gara uang.

 

 

Memperkuat pendapat Howard, maria Lasswell, pimpinan lembaga terapi untuk perkawinan dan keluarga di Amrik, mengatakan bahwa potensi itu cenderung muncul akibat perbedaan kebiasaan dalam menggunakannya, kebiasaan yang diperoleh melalui proses belajar alamiah sepanjang hidupnya, menurut lasswell, sudah seperti karakter bawaan yang tidak dapat dirubah seketika.

 

 

Di Indonesia, persoalan uang pun kerap menjadi penyebab pertengkaran pasutri. Malah, kata seorang pengamat, khusus pada keluarga tingkat ekonomi menengah ke bawah  masalah tersebut bisa mengakibatkan keretakan rumah tangga. Perselisihan rumah tangga karena uang, katanya, dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu karena kurangnya jumlah dana dan tiadanya keterbukaan diantara pasutri. Masalah kekurangan uang banyak terjadi di kalangana ekonomi menengah ke bawah, sedangkan masalah ketidakterbukaan sering muncul di keluarga kelompok ekonomi atas.

 

 

Cara mengatasinya, bagi yang selalu merasa kekurangan uang adalah dengan selalu mengucapkan syukur. Walaupun ini kadangkala berat, kalau kita selalu bicara masalah kurang. Bila pendapatan bertambah, uang yang dibelanjakan juga akan melar. Maka, cobalah mengucapkan syukur dengan cara membandingkan dengan orang kemampuan ekonominya di bawah kita.

 

 

Senjata pamungkas lain adalah keterbukaan, mulai terhadap jumlah dana yang ada, jenis keperluaan, dan cara memenuhinya. Sebenarnya prinsip keterbukaan mempunyai manfaat lain. Misalnya bila sampai ada masalah dari perusahaan tempat suami memperoleh gaji, istri bisa dilibatkan untuk membantu.

 

 

Keterbukaan juga dapat menepis bahwa kebahagiaan rumah tangga hanya ditentukan

Oleh faktor materi. Karena banyak terjadi, ketika muncul keributan, suami cenderung tidak terbuka, membela diri dengan mengatakan “Apa sih kurangnya saya, semua kebutuhan sudah saya cukupi!”.

 

 

Lambat laun keterbukaan akan menggiring pasangan suami istri pada satu titik saling mempercayai dan menghargai. Dengan itu si istri tidak hanya akan menghargai besar kecilnya penghasilan, tetapi juga bagaimana usaha kerja keras sang suami.

 

 

Rasa saling percaya dan menghargai tersebut tidak hanya perlu dimiliki oleh suami-istri, namun juga setiap anggota keluarga, sesuai dengan tingkat umur dan kedewasaannya.

 

 

Berbeda dengan keluarga tradisional dimana hanya suami yang berperan mencari penghasilan, dalam keluarga ‘modern’ banyak dijumpai pasangan yang sama-sama bekerja.

Tak anyal kondisi dua kantung penghasilan ini pun memerlukan strategi khusus dalam mengelolanya.

 

 

Haruskah suami-istri membuka rekening yang masing-masing bisa menarik dananya? Tidak ada kriteria mana yang lebih baik. Yang penting adalah itikad si penyimpan. Bisa saja ia tidak memberitahu berapa jumlah uang di rekeningnya, karena akan disimpan untuk keperluan nanti. Misalnya, memberi kejutan untuk anggota keluarga yang berulang tahun, atau persiapan anak masuk universitas, yang kalau harus diambil dari dana sehari-hari bisa merepotkan.

 

 

Namun, ada saja orang yang sengaja merahasiakan untuk memenuhi kepentingan diri sendiri dengan menerapkan konsep ”uang saya atau uang kamu” dalam kehidupan rumah tanggannya. Ini bisa mengindikasikan adanya unsur niat tidak baik, curiga, atau tidak percaya dari salah stu pasangannya, yang bisa berkembang menjadi perselisihan.

 

 

Karena itu, masalahnya bukan di simpan pada satu atau dua rekening terpisah. Tapi pada tujuannya, untuk membahagiakan keluarga yang bisa dicapai dengan bermacam-macam cara.

 

 

Kebahagiaan keluarga, ,menurut seorang pengamat rumah tangga, akan tercapai antara lain bila pasangan dapat menata keuangan dengan baik. “peganglah moto, banyak yang ditawarkan, beli sesuai kebutuhan”.

 

 

Untuk menentukan kebutuhan ada beberapa pertanyaan yang bisa digunakan untuk menguji. Pertama, “apa barang yang dibutuhkan?” selanjutnya, sebagai penguat, ”benarkah barang itu benar-benar kita perlukan?” pertanyaan berikut akan mencoba mengukur kekuatan kantong kita, “apakah dananya ada?” Nah. Kalau sampai dana yang ada tidak mencukupi kita perlu menghitung dengan “apakah kuantitasnya bisa dikurangi?” kalau ternyata tidak bisa, satu-satunya jalan adalah, “apakah kualitasnya bisa dikurangi?”.

 

 

Sebagai contoh sederhana, saat orang memutuskan membeli 5 kilo beras rojolele, tapi ternyata kekuatan kantongnya tidak memungkinkan, maka ia perlu menghitung, apakah jumlahnya bisa dikurangi? Ternyata tidak mungkin, karena beras itu dibutuhkan oleh seluruh anggota keluarganya. Jalan keluarnya, cobalah membeli jenis lain dengan mutu yang lebih rendah dan harga yang lebih murah.

 

 

Kesepakatan berdua tak hanya perlu dalam menentukan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga saat menentukan prioritas kebutuhan tambahan lain. Karena keputusan sepihak memungkinkan timbulnya rasa kecewa pada salah satu pihak. Pernah suatu ketika seorang istri merasa sangat sedih karena tidak bisa membeli barang yang sangat ia inginkan dengan uangnya sendiri. Alasanya, ia tidak ingin ribut dengan suaminya, karena barang itu bukan termasuk kebutuhan prioritas, “Maria Lasswell mengungkap suatu kasus.

 

 

Penentuan prioritas kebutuhan paling terasa manfaatnya bila ingin membeli barang kebutuhan yang cukup mahal. Bahkan bila barang tersebut tidak sangat perlu, pengadaannya dapat ditunda.

 

 

Sebagai contoh, mungkin bagi orang lain mobil termasuk kebutuhan penting, namun tentu ada yang menganggap memiliki rumah yang cukup baik lebih mendesak untuk diadakan.

 

 

Namun sebagai pasangan yang terdiri atas individu-individu, tak jarang setiap individu memiliki keinginan untuk membeli sesuatu yang bukan bagian dari prioritas kebutuhan keluarga. Namun juga harus masuk di akal, jangan sampai membabi buta sehingga mengganggu urusan sehari-hari. Selain dana yang digunakan harus berasal dari dana yang semula hanya disimpan, juga dilihat kesepakatan untuk mendapatkannya.

 

 

Karena itu dalam hal membelanjakan uang untuk kepentingan individu suami atau istri, yang paling utama adalah adanya keterbukaan. Katakan saja apa yang diperlukan. Seandainya, istri memerlukan tata rias, keperluan itu jangan diartikan sebagai keperluan pribadi istri. Karena, istri cantik dan rapih itukan untuk mnyenangkan keluarga juga. Demikian sebaliknya, bila suatu ketika suami harus mengeluarkan uang untuk menjamu rekan kantor, tentu didasarkan untuk kepentingan keluarga.

 

 

Kesadaran ini pun harus terus dipertahankan, agar jangan sampai terjerumus untuk berperilaku boros. Bagi mereka yang cenderung berwatak demikian, jangan pernah bosan mengingatkan akibatnya bila kita mengeluarkan dana di luar kemampuan. Walaupun lebihnya sedikit lama-lama jadi besar. Belum lagi kalau kekurangan itu berusaha ditutup dengan berhutang. Karena utang yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif dapat menjerat leher semakin dalam.


Artikel Lainnya

  Home | Profil | Testimoni | Galeri | Kontak Kami
Copyright © 2006, www.refleksiteraphy.com - Powered by Alkindyweb