Home Profil Pelatihan Testimoni Hipnoterapi Galeri Kontak Kami
refleksi teraphy pijat refleksi
- Alternatif
- Balita & Anak
- Gizi
- Pria
- Psikology
- Tips
- Topik Utama
- Wanita
IKLAN BARIS
Loker buat Alumni

Buku panduan refleksi dan VCD refleksi teraphy


DOWNLOAD
cover buku refleksi
buku refleksi
formulir pendaftaran
doa-doa pengobatan
analisa telapak tangan

CHATING
Konsultasi Online
Mengetasi kecemasan
 ARTIKEL

Mengetasi kecemasan

Mengatasi Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Lansia

 

Proses menua manusia mengalami perubahan menuju ketergantungan fisik dan mental. Keluhan yang menyertai proses menua menjadi tanda adanya penyakit, biasanya disertai dengan perasaan cemas, depresi atau mengingkari penyakitnya.

Apalagi penyakit stadium terminal (tinggal menunggu ajal) dalam prediksi secara medis sering diartikan penderita tidak lama lagi meninggal dunia. Keadaan ini menyebabkan lansia mengalami kecemasan menghadapi kematian.

Menurut ahli bernama May, kematian sebagai suatu hal yang menyebabkan individu benar-benar merasa eksis, kematian juga menggambarkan ancaman menjadi "tiada". Kondisi ini menyebabkan timbulnya kecemasan.

Menurut Kubler-Ross, ada beberapa tahap kematian yang dialami penderita yaitu tahap menyangkal. Penderita mengetahui penyakitnya tidak dapat disembuhkan maka penderita berharap dokter salah menentukan penyakitnya, sehingga penderita mengunjungi banyak dokter untuk memperoleh banyak pendapat. Fungsi penyangkalan ini sebagai penghibur dirinya.Tahap kemarahan yaitu penderita mengetahui kesehatannya semakin memburuk maka emosinya sulit dikendalikan.

Ia mengeluh dokter dan perawat bahkan keluarganya tidak beres, berkata kasar, menolak makan/minum, menolak pengobatan, memukul, melempar benda. Perasaan ini diproyeksikan pada lingkungannya bahkan marah pada Tuhan. Tahap tawar menawar yaitu penderita berusaha merubah perilakunya. Penderita berharap kematiannya dapat ditunda dan hidup lebih lama sehingga ia melakukan segala sesuatu yang diharuskan dokter.

Tahap depresi yaitu penderita semakin menyadari penyakitnya tidak berkurang sehingga mengalami depresi yang terlihat sering diam dan menolak ajakan orang lain, menghabiskan waktu dengan bersedih, menangis, tidak mau menerima tamu, tidak mau makan/minum, tidak dapat memusatkan pikiran bahkan timbul ide mau bunuh diri.

Pada tahap ini penderita menyadari semua yang dilakukannya sia-sia. Tahap penerimaan ditandai dengan penderita merasa tenang, damai dan mau menerima keadaan.

Penderita lebih memperhatikan hal-hal bersifat praktis seperti menulis wasiat. Menurut Erickson, seseorang yang mencapai integritas ego menetap tidak terlalu cemas dalam menghadapi kematian, sebab individu dihadapkan pada dua hal yaitu perasaan integritas dan putus asa.

Menghadapi kematian dapat terjadi kecemasan yang dipengaruhi ketidakpastian tentang adanya kehidupan setelah kematian yang menyebabkan timbulnya rasa cemas. Hubungan keluarga, hubungan antara orang tua dan anak yang harmonis dan dukungan emosional seperti rasa simpati dan pengertian orang lain akan mengurangi kecemasan menghadapi kematian. Lansia yang merasa sejahtera dan mampu menikmati hidup maka kecemasan menghadapi kematian tidak terlalu tinggi. Lansia yang memiliki tingkat religiusitas/keimanan yang tinggi tidak terlalu cemas dalam menghadapi kematian. Melakukan kursus pendidikan tentang kematian akan menambah pengetahuan atau wawasan serta mendiskusikannya secara realistis,sehingga lebih realistis dalam menghadapi kematian.

Upaya yang dilakukan berupa mendampingi penderita yang sedang menghadapi kematian sesuai dengan tahap yang dialami penderita dalam menghadapi kematian. Menurut Kubler dan Ross (1998) upaya yang perlu dilakukan adalah tahap penyangkalan yakni upaya yang dilakukan pendamping dengan membiarkan penderita melakukan penyangkalan setelah itu penderita secara bertahap meninggalkan penyangkalannya.

Tahap kemarahan, pendamping atau yang merawatnya menemani dan mendengar secara aktif dan berusaha bersama penderita mengendalikan emosinya, sehingga penderita dapat bertindak tidak emosional dan tidak merugikan penderita dengan bertambah beratnya penyakitnya.

Tahap tawar menawar, upaya yang dilakukan dengan menemani dan mendengar secara aktif, berdiskusi dan berusaha diarahkan pada tingkah laku yang positif seperti menolong sesama manusia dan beribadah.

Tahap depresi, upaya yang perlu dilakukan mendampingi penderita perlu diarahkan dan merenungkan kematiannya yang sudah dekat.Tahap penerimaan, upaya yang perlu dilakukan dengan mendampingi penderita dengan bimbingan rohani.

(dr.Pirma Siburian Sp PD) (ags)

 


Artikel Lainnya

  Home | Profil | Testimoni | Galeri | Kontak Kami
Copyright © 2006, www.refleksiteraphy.com - Powered by Alkindyweb