Home Profil Pelatihan Testimoni Hipnoterapi Galeri Kontak Kami
refleksi teraphy pijat refleksi
- Alternatif
- Balita & Anak
- Gizi
- Pria
- Psikology
- Tips
- Topik Utama
- Wanita
IKLAN BARIS
Loker buat Alumni

Buku panduan refleksi dan VCD refleksi teraphy


DOWNLOAD
cover buku refleksi
buku refleksi
formulir pendaftaran
doa-doa pengobatan
analisa telapak tangan

CHATING
Konsultasi Online
Gangguan Jiwa Neurasthenia
 ARTIKEL

Gangguan Jiwa Neurasthenia

Gangguan Jiwa Neurasthenia

 

Prof. Dr. Zakiah Daradjat

 

Dari hasil berbagai penyelidikan dapat dikatakan bahwa gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik maupun dengan mental. Keabnormalan tersebut bukan disebabkan oleh sakit fisik walaupun gejalanya terlihat pada fisik. Keabnormalan tersebut tergolong dalam gangguan jiwa atau neurose dan sakit jiwa atau psycose.

 

Keabnormalan dapat berupa :

ketegangan batin (tension), murung dan rasa putus asa, gelisah/cemas, compulsive/perbuatan terpaksa, hysteria, rasa lemah, takut, pikiran-pikiran buruk.

Semuanya itu mengganggu ketenangan hidup, misalnya tidak bisa tidur dengan nyenyak, tidak nafsu makan dan sebagainya.

 

Perbedaan orang terkena neurose dan psycose adalah orang yang mengindap neurose masih mengetahui dan merasakan kesukarannya, sedangkan penderita psycose tidak. Disamping itu orang yang terkena neurose  kepribadiannya tidak jauh dari realitas, dan masih hidup dalam  alam kenyataan, sedangkan orang yang terkena psycose kepribadiaannya sangat terganggu, tidak ada integritas dan ia hidup jauh dari alam kenyataan.

 

Contoh gangguan jiwa

Neurasthenia

Penyakit neurasthenia adalah penyakit payah. Orang yang diserang akan merasakan diantaranya :

seluruh badan letih, tidak bersemangat, lekas merasa payah, walaupun sedikit tenaga yang dikeluarkan. Perasaan tidak enak, sebentar-sebentar ingin marah, menggerutu dan sebagainya. Tidak sanggup berpikir tentang suatu masalah, sukar mengingat dan memusatkan perhatian. Apatis, acu tak acu. Sangat sensitif terhadap cahaya dan suara, sehingga detik jam saja menyebabkan tidak bisa tidur.

 

Selain gejala tersebut mungkin pula terdapat gejala-gejala tambahan seperti :

Tidak adapat tidur, sehingga ia menjadi gelisah. Kepala selalu pusing, kadang-kadang rasa menekan. Sering merasa dihinggapi bermacam-macam penyakit, sehingga ia sering memeriksakan dirinya ke dokter. Takut mati, pikirannya selalu diganggu oleh masalah mati  dan penyakit.

 

Penyakit ini disebabkan oleh karena terlalu lama menekan perasaan, pertentangan batin, kecemasan, terhalangnya keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan. Selain itu terlalu banyak mengalami kegagalan hidup, semua itu menyebabkan kegelisahan dan tertekannya perasaan.

 

Contoh:

Seorang  laki-laki setengah umur, sering merasa dingin, jantungnya berdebar-debar, kadang-kadang ia merasa akan mati. Bermacam-macam penyakit yang dirasakannya, kadang-kadang rematik, masuk angin, sakit jantung, sesak nafas, pusing dan sebagainya. Disamping itu ia tidak bisa tidur, letih takut penyakitnya akan akan berlarut-larut dan takut mati.

 

Karena banyaknya penyakit yang dirasakannya, menyebabkan ia berhubungan  dengan beberapa dokter terus menerus selama beberapa tahun. Tetapi  penyakitnya tidak berubah, sehingga ia merasa gelisah dan takut. Kegelisahan, rasa letih dan payah yang selalu dirasakannya menyebabkan tidak bisa tidur, sering marah kepada anak-anak dn kepalanya selalu pusing.

 

Setelah di teliti dan diketahui latar belakang dari hidupnya, ternyata bahwa penyakit-penyakit yang dideritanya bukanlah disebabkan oleh kelelahan syaraf, tetapi disebabkan oleh seringya ia menekan perasaan. Ia mempunyai seorang ayah yan keras dan otoriter, selalu memerintah dan menganggap anak-anaknya harus tunduk dan ikut perintahnya meskipun sudah dewasa. Disamping mempunyai  bapak yang otoriter dan ditakutinya, ia mempunyai banyak saudara yang menjadi saingannya dalam hidup sejak kecil dan dalam perusahaan sejak setelah dewasa. Tekanan-tekanan perasaan, persaiangan dan kegelisahan yang bertubi-tubi dideritanya, akhirnya mengganggu kesehatan fisiknya. Ia merasa kesehatannya ambruk sama sekali, dan tinggal menunggu mati saja, apalagi setelah dirawat oleh beberapa dokter, tapi penyakitnya tidak berubah.

 

Setelah selesai perawatan jiwa dengan berusaha memahami kembali segala persoalan dan riwayat hidup yang dilaluinya sejak kecil, ia mulai memahami dirinya dan memahami tindakan ayah dan saudara-saudaranya. Pemahaman itu memberinya ketenangtan batin, dan mulailah ia merasa kuat dan akhirnya gajala-gajala yang dideritanya dulu berangsur-angsur hilang.

 

Dengan contoh di atas, terlihatlah bahwa sebab terpenting dari penyakit neurasthenia itu adalah ketidaktenanan jiwa, kegelisahan, tekanan dan pertentangan batin serta persaingan.

 

 

 


Artikel Lainnya

  Home | Profil | Testimoni | Galeri | Kontak Kami
Copyright © 2006, www.refleksiteraphy.com - Powered by Alkindyweb