Home Profil Pelatihan Testimoni Hipnoterapi Galeri Kontak Kami
refleksi teraphy pijat refleksi
- Alternatif
- Balita & Anak
- Gizi
- Pria
- Psikology
- Tips
- Topik Utama
- Wanita
IKLAN BARIS
Loker buat Alumni

Buku panduan refleksi dan VCD refleksi teraphy


DOWNLOAD
cover buku refleksi
buku refleksi
formulir pendaftaran
doa-doa pengobatan
analisa telapak tangan

CHATING
Konsultasi Online
kesepian dapat menggali potensi
 ARTIKEL

kesepian dapat menggali potensi

Kesepian dapat Menggali Potensi

 

Ludwid van Beethoven (1770-1827) termenung di balik kamarnya. Tatapan matanya kosong. Sementara suasan pada musim dingin tahun 1800 itu terasa begitu mencekam, dingin dan sepi. Beethoven yang saat itu belum di kenal sebagai komponis besar sedang frustasi karena pendengarannya mulai terganggu. Lelaki genius yang tinggal di Bonn ini lebih suka sendirian dalam kamarnya. Ia menarik diri dari kehidupan ramai. Apalagi sewaktu udara begitu dingin menusuk tulang. Sepi dan dingin adalah kehidupan Beethoven. Namun dalam suasana demikian Beethoven mampu melahirkan karya-karya yang dahsyat. Kesepian seperti yang dialami Beethoven hakikatnya pernah dialami setiap insan. Rollo May dalam bukunya Man’s Search for himself menggambarkan kesepian sebagai ancaman yang menyakitkan bagi sebagian orang, akibatnya, dalam diri mereka tertanam nilai-nilai negatif tentang kesepian. “Bagi sebagian orang, kesepian adalah momok yang mengerikan, sehingga tak sedikit orang yang menderita karena dicekam perasaan itu,” demikian May. Orang-orang demikianlah, menurut May, yang kesulitan menemukan dirinya sendiri.

 

Kebutuhan Bersahabat

Menurut  May, manusia cenderung merasa aman bila berada di tengah kawan-kawannya. “Kerinduan pada seseorang bukan semata-mata usaha untuk mengisi kehampaan yang mencekam dirinya, melainkan juga merupakan kebutuhan untuk bersahabat.” Alasan yang mendasar mengapa orang cenderung tak mau larut dalam kesepian adalah karena mereka memiliki pengalaman-pengalaman pribadi berhubungan dengan orang lain. “Biasanya pada saat seorang diri, orang akan merasa khawatir kehilangan pengalaman tersebut.” Ulas May.

 

Sebagai mahluk sosial, manusia butuh berinteraksi dengan sesamanya. Kesepian lahir dari kebutuhan manusia berinteraksi dengan sesamanya agar dapat mengorientasikan dirinya sendiri. Seorang Beethoven tentu mengalami kesulitan berbagai kesepian dengan orang lain karena ia tuli. Namun ia bisa ‘berbagi’ dengan piano dan biolanya, dua instrumen musik yang sudah dikuasainya sejak ia masih anak-anak.

 

 

Menghancurkan Kesepian

Norman Cousin, seorang penulis, pernah menulis bahwa sejarah manusia pada dasarnya merupakan usaha menghancurkan kesepian. Berbagai cara diupayakan orang agar dapat lepas dari kesepian. Salah satu tameng untuk mengatasi kesepian adalah penerimaan sosial. Seseorang yang penerimaan sosialnya baik, ia mampu melebur dalam kelompok akan mudah merasakan kehangatan pergaulan. Orang-orang demikian bila merasa sepi akan mudah memperoleh penawarnya. Memang  tak semua orang tercekam dalam kesepian. Adakalahnya orang butuh sendirian, tanpa ditemani siapapun. Tetapi biasanya hal tersebut tak berlangsung lama. Filsuf  Jerman, Nietzsche melukiskan begini : seseorang pergi mendapatkan sesamanya karena ia rela kehilangan dirinya. “Kurangnya cinta terhadap diri sendiri menyebabkan kesepian menjadi penjara bagi manusia.”

 

Bila seseorang mencintai dirinya maka kesepian tidak selalu berarti negatif. Masa itu bisa digunakan untuk merefleksikan kembali hal-hal yang telah terjadi, merencanakan masa depan atau menggali potensi diri. “Sebenarnya manusia bisa menerima kesadaran dirinya yang merupakan potensi dasar untuk kemampuannya,” papar May.

Ketika pendengarannya terganggu, Beethoven mulai mengisolir diri sebelumnya ia adalah satu-satunya komponis pada zamannya. Sejarah mencatat, Beethoven dalam kesepiannya masih mampu melahirkan karya-karya  dahsyat seperti kuartet opus 127, 130, 131, 132, dan 135.

 

 

Konfensasi Positif

Dari pengalaman komponis besar yang wafat pada tanggal 2 Maret 1872 ini, nampak bahwa kesepian tidak selalu berakibat buruk sejauh mereka yang merasaknnya mengupayakan kompensasi yang positif. Ada banyak teladan yang diberikan oleh tokoh-tokoh dunia, yang bisa menghasilkan karya-karya besar justru pada saat mereka menghalami kesepian yang mencekam.

 

Hans Christian Anderson (1805-1875) adalah contoh lainnya. Penulis dongeng anak-anak ini adalah orang yang dirundung hampir sepanjang hidupnya. Andersom berwajah buruk. Keadaan ini membuatnya minder. Ia banyak menghabiskan waktunya di rumah karena merasa banyak orang mentertawakan wajahnya. Justru karena kesepiannya, Anderson menghasilkan banyak cerita anak-anak. Konon salah satu karyanya yang berjudul ‘Anak itik buruk rupa’ merupakan cerminan dari hidupnya yang sepi.

 

Posisi Beethoven maupun Anderson yang luar biasa mulai digali takala mereka masih berada dalam asuhan orang tuanya. Beethoven mulai mahir bermain musik sejak berusia 6 tahun. Orang tuanya menyadari kemampuan anaknya sejak dini. Pada usia 10 tahun mereka mengirim ke Koeln untuk belajar musik pada organisasi kenamaan keuskupan Agung Koeln, Christian Gottlob Neefe.

 

Sedang Anderson lahir dan dibesarkan dalam keluarga miskin. Keadaan ini memaksanya segera mencari pekerjaan  menjadi penyanyi pada usia 14 tahun. Namun orang tuanya melihat bakat alamiah Anderson dalam tulis menulis. Mereka mendorong Anderson berlatih menulis. Mulanya karya-karya Anderson memang di tolak. Namun orang tuanya terus memberinya semangat agar tak putus asa. Hingga suatu hari direktur Teater Royal, Jones Collin, menyekolahkan Anderson.

 

Begitulah, nyatanya kesepian bukanlah petaka yang mengerikan. Bila sejak dini seseorang telah memahami hakikat dan potensi dirinya, kesepian justru bisa menjadi kesempatan unutk menggali kemampuan. Alhasil, manusia bisa mematahkan jeruji-jeruji sepi yang menurut Nietzsche bisa memenjarakan mereka. Semoga. ( (Febriadi Rusdi AMd-berbagai sumber)


Artikel Lainnya

  Home | Profil | Testimoni | Galeri | Kontak Kami
Copyright © 2006, www.refleksiteraphy.com - Powered by Alkindyweb